Margin
Kontribusi adalah konsep akuntansi biaya yang memungkinkan perusahaan untuk
menentukan profitabilitas produk individu. Menghitung untuk margin kontribusi
membantu dalam mengukur kegagalan atau keberhasilan lini produk perusahaan
dengan mencocokkan profitabilitas satu baris dengan yang lain. Dengan sistem
ini, Anda akan dapat menentukan produk apa yang anda perlu menambahkan atau
menghapus dari lini produk untuk meningkatkan pendapatan. Pilihan mengurangi
biaya variabel dan meningkatkan harga jual juga tersedia bagi para manajer
dalam meningkatkan margin kontribusi.
Hal pertama yang harus dilakukan
adalah dengan menghitung total penjualan produk. total penjualan adalah total
kotor semua item yang dijual. Anda bisa mendapatkan angka ini oleh laporan
penjualan baik dari penjualan mendaftar atau mengakses program penjualan
komputer. Ingat bahwa total tidak termasuk biaya tetap. Tetap terkunci-biaya
yang tidak langsung berhubungan dengan penjualan dan tidak dalam bidang margin
kontribusi. Dikurangi biaya variabel. Dengan angka total penjualan, sekarang
perlu untuk mengurangi biaya variabel. Variabel mencerminkan pengeluaran untuk
memproduksi dan menjual produk seperti produksi, pengemasan, biaya tenaga
kerja, komisi penjualan, pengiriman, pemasaran langsung dan sejenisnya. Apa pun
yang terlibat dalam produksi dan penjualan produk berada di bawah lingkup biaya
variabel.
Kontribusi perbandingan margin. ”
Setelah memiliki margin kontribusi total produk individual pada baris produk,
perlu untuk membandingkan antara semua produk. Setelah mengumpulkan data,
sekarang akan dapat membuat keputusan pemasaran yang tepat untuk meningkatkan
penjualan dan keuntungan perusahaan. Anda dapat mengubah harga produk tertentu
atau bahkan menghapus produk tertentu dari lini produk Anda.Dijadwalkan
analisis. Untuk bisnis ritel, praktek komputerisasi untuk margin kontribusi
harus merupakan proses yang berkelanjutan dan harus dilakukan secara teratur.
Anda dapat melakukan prosedur ini bulanan, kuartalan, atau semi-tahunan.
Kebanyakan bisnis melakukan perhitungan dan perbandingan margin kontribusi
secara bulanan untuk membantu mereka melacak kinerja produk mereka lebih
akurat. Perhitungan untuk margin kontribusi adalah sebuah proses menentukan
kelangsungan produk Anda.
Kontribusi margin merupakan analisis
biaya-volume-laba bagian dari manajemen akuntansi
terhadap margin keuntungan dalam penjualan per unit dan berguna dalam
melaksanakan berbagai perhitungan ataut digunakan sebagai ukuran kepengaruhan
operasional.
Margin Kontribusi (Total Contribution Margin
(TCM)) adalah Total Pendapatan atau Penjualan (Total Revenue(TR atau Sales)
tanpa ikutan Total Biaya Variabel {Total Variable Cost(TVC)):
Unit
Margin Kontribusi
{Unit Contribution Margin (C)) adalah Satuan Pendapatan (Unit Revenue
(Price, P)) tanpa ikutan Satuan Biaya Variabel (Unit Variable Cost (V)):
Ratio Margin Kontribusi (Contribution Margin Ratio)
adalah persentase Kontribusi atas Pendapatan Total (Total Revenue), yang
mana dapat dihitung dari kontribusi satuan terhadap harga satuan atau jumlah
kontribusi terhadap jumlah Pendapatan:
Berikut saya akan memberikan salah satu metode mudah
untuk mencari Break Even Point suatu penjualan. dalam metode yang akan saya
jelaskan ini, saya menggunakan metode Margin Kontribusi.
2. BAGAIMANA CARA MENGHITUNG HARGA POKOK VARIABEL?
Variable Costing Merupakan
suatu metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya
produksi variabel saja. Dikenal juga dengan istilah : direct costing
Harga Pokok Produksi :
Biaya bahan baku
Rp. xxx.xxx
Biaya tenaga kerja langsung
Rp. xxx.xxx
Biaya overhead pabrik variabel
Rp. xxx.xxx
Harga Pokok Produk
Rp. xxx.xxx
Dengan menggunakan Metode Variable
Costing,
1. Biaya Overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan
sebagai unsur harga pokok produk, sehingga biaya overhead pabrik tetap
dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya.
2. Dalam kaitannya dengan produk yang belum laku dijual, BOP tetap tidak
melekat pada persediaan tersebut tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam
periode terjadinya.
3. Penundaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan
penundaan tersebut diharapkan dapat
dihindari terjadinya biaya yang sama periode yang akan datang.
Laporan Laba-Rugi ( Metode Variable Costing )
Hasil penjualan
Rp 500.000
Dikurangi
Biaya-biaya Variabel :
Biaya produksi variabel
Rp
150.000
Biaya pemasaran variabel
Rp
50.000
Biaya adm. & umum variabel Rp 30.000
Rp 230.000
Laba kontribusi
Rp. 270.000
Dikurangi
Biaya Tetap :
Biaya produksi tetap
Rp
100.000
Biaya pemasaran tetap
Rp 25.000
Biaya Adm & umum tetap
Rp 20.000
Rp 145.000
Laba Bersih
Usaha
Rp
125.000
3,
PENGERTIAN MARGIN KONTRIBUSI DAN
KONTRIBUSINYA TERHADAP PERHITUNGAN BIAYA?
Margin kontribusi menurut
Garrison, dkk (2006:324) adalah “jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi
beban variabel”. Margin kontribusi merupakan jumlah yang tersisa untuk menutup
biaya tetap dan memberikan keuntungan. Margin kontribusi juga dapat disajikan
dalam bentuk persentase. Hansen & Mowen (2005:280) menyatakan bahwa rasio
margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap dolar
penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
Margin kontribusi
(contribution margin) yang dikenal juga dengan sebutan pendapatan marjinal,
merupakan kelebihan jumlah penjualan terhadap seluruh biaya variabel (yaitu :
biaya produksi, penjualan dan administrasi). Karena besar manfaatnya sebagai
suatu sarana perencanaan laba (profit planning device), maka margin kontribusi
mempunyai arti yang penting dalam perhitungan laba-rugi dengan metode biaya
langsung (direct costing income statement)
4. PERBEDAAN HARGA
POKOK VARIABEL DAN HARGA POKOK PENUH (FULL COSTING)?
Variabel
costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variable ke dalam harga pokok
produksi. Manfaat data perhitungan harga pokok dengan menggunakan metode
variabel costing (HPV) adalah :
1. Menigkatkan
estimasi tingkat profitabilitas produk, konsumen, dan segmen bisnis lain.
2. Laba
periodik tidak dipengaruhi oleh tingkat persediaan. Dengan asumsi hal-hal lain
tetap (harga jual, biaya,bauran benjualan dan sebagainya) laba akan searah
dengan penjualan.
3. Dengan
menggunakan Variabel costing, biaya produksi per unit tidak mengandung biaya
tetap.
4. Laba
bersih berdasarkan variabel costing lebih dekat dengan aliran kas bersih. Hal
ini akan sangat penting untuk perusahaan yang mengalami masalah aliran kas.
Perbedaan perhitungan Laba Bersih
yang Menggunakan Metode HPV dengan Harga Pokok Penuh dengan metode perhitungan
hargapokok penuh, jika persediaan meningkat maka beberapa biaya produksi tetap
dalam periode berjalan tidak tampak dalam laporan laba rugi sebagai bagian dari
harga pokok penjualan. Biaya-biaya ini akan ditangguhkan ke periode berikutnya
dan akan dimasukkan ke akun persediaan dalam neraca. Penangguhan biaya ini
dikenal sebagai overhead pabrik ditangguhkan ke persediaan.
1.
Dengan
metode perhitungan harga pokok variable, seluruh biaya overhead tetap
diperlakukan sebagai beban periode berjalan.
2.
Persediaan
akhir dalam metode perhitungan harga pokok variable lebih rendah dibanding
perhitungan harga pokok penuh. Dalam perhitungan HPV, hanya biaya produksi
variable yang dibebankan ke unit produk.
3.
Laporan
laba rugi perhitungan harga pokok penuh tidak membedakan antara biaya tetap dan
biaya variable. sehingga, metode ini tidak cocok untuk perhitungan biaya
volume-laba yang penting untuk perencanaan dan pengendalian yang baik.
4.
Pendekatan
perhitungan HPV untuk menentukan biya produksi per unit sesuai dengan
pendekatan kontribusi karena kedua konsep tersebut mengklasifikasi biaya
berdasarkan perilakunya.
Pada dasarnya, perbedaan
antar metode perhitungan harga pokok penuh dan Harga Pokok Variabel terletak
pada waktu (timing) Pendukung metode HPV menyatakan bahwa biaya produksi
tetap harus dibebankan secara total, sedangkan pendukung perhitukan metode
harga pokok penuh menyatakan bahwa biaya produksi tetap harus dibebankan pada
pendapatan sesuai jumlah unit yang terjual.
Berdasarkan
hasil perhitungan analisa laba jika menggunakan metode variable costing dan
full costing dihasilkan :
· Jika jumlah produksi = jumlah penjualan
Hasil
yang diperoleh adalah jumlah laba oleh kedua metode sama besar
· Jika jumlah produksi < jumlah
penjualan
Hasil
yang diperoleh adalah jumlah laba oleh metode variable costing lebih besar dari
laba yang dihasilkan oleh metode full costing.
· Jika jumlah produksi > jumlah
penjualan
Hasil
yang diperoleh adalah jumlah laba oleh metode variable costing lebih kecil dari
laba yang dihasilkan oleh metode full costing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar